Tidung.... Nak .. perjalananmu ternyata....?( sambil menguak napak tilas , Alumni MA AL Ghazaly Bogor yang berasal dari Pulau Tidung )
Minggu 23 Juni pukul 04.00 perjalanan menuju P Tidung di Kepulauan Seribu baru dimulai, meskipun pukul 03.00 kami sudah berkumpul di MAN 2 kota Bogor. Dengan menggunakan bus 3/4 ( karena cuma ada 20 rekan guru yang ikut), kami bergerak mengikuti luncuran tol jagorawi menuju Muara Angke. Dibawah bimbingan sesepuh ( bu Hj. Mudrchatun) lantunan doa perjalanan kami panjatkan ( bismillah majreha wa mursaha ...). Oh iya ada yang terlupa.. yang ikut adalah dari kelompok ibu 2 : Hj. Mudrichatun, Hj. Lela sholihah, Fauziah Said, Nani, Lala Nurmala, Nurul Istiqomah dengan putrinya , Saripah, Rahmawati dan 2 putrinya, Mia Immawati. Sedangkan dari kelompok laki-laki / bapak : Umar, Aku, Khalid, Aditya, Arif, Suami Bu Nani, Putra bu Lala, Iwan Putra Bu Rahmah,
Meskipun adzan shubuh belum terdengar, namun aktivitas warga yang bergerak mengusap licinnya Jagorawi telah menggeliat. Seperti berlomba untuk menghindari kemacetannyang bakalan mereka hadapi saat mentari menampakkan diri. Namun kami rasakan, perjalanan pagi ini sangat lancar.
Permasalahan terjadi saat keluar dari tol menuju Muara Angke.. Sang supir ternyata salah arah, bus itu nyasar di perumahan elit, namun itu tak berlangsung lama... Meskipun bus ber AC namun, aroma khas Ikan mulai tercium saat memasuki Pasar Ikan.. Dasar ibu-ibu, tatkala melihat ikan di mana mana, mereka ribut dan berencana turunn untuk membeli ikan segar.. ha.ha..ha..
Bus akhirnya memasuki tempat pelelangan ikan sekitar pukul 5.30 .. duhhhhhh subuh terlambat banget.. Begitu kami turun, yang ada dalam benak kami adalah mushola. Setelah bertanya ke salah seorang di sana, akhirnya kami menemukan mushola... segera kami menyerbu, namun sayangnya mushola tersebut masih dikunci....kalutlah kami. Akhirnya kami dapat informasi di SPBU ada musholla... aku seperti dikejar setan, secepat kilat berjalan cepat menuju ke TKP. Ikut di belakangku, pak Arif, bu nani dan suaminya, serta bu Lala dan buah hatinya... namunnnnn ketika sampai ke tempat yang dituju, ternyata di Musholla tidak ada air... keringggggg..... semakin kalut ! Mau tayamum, ngak mungkin dilakukan. Waktu semakin terus berlalu.... panikkk... masuk ke WC , ampuuunnn bauuuuu..... Jurus terakhir di keluarkan "Ajtahidu bi Ra'yi", beli Aqua botol... Basuh sana-basuh sini... Alhamdulillaah.....
"Banyak air namun tak memberi arti ".

Setelah Subuh , sambil menunggu rekan-rekan yang lain, kaki ini ku langkahkan ketempat lain, mencoba menyusuri Pasar Muara Angke dan kehidupan warga di sekitarnya... Ya Ampun, aroma khas ikan yang busuk bercampur dengan genangan air, menutupi seluruh panca indraku.. Tak tahan, namun kucoba bertahan... Ku pelajari kehidupan di sekitar pelabuhan, bahasa, gerak, pola tingkah lakunya, pola gerak masyarakat nelayan dan para buruh labuhan.
Jam delapan rombongan kami berangkat dengan perahu. Isi penumpang di perahu itu bukan cuma kami tapi masyarakat Pulau Tidungpun banyak. Perjalanan menyebrang laut yang ketiga untukku setelah menyeberang ke pulau Dewata..Hanya bedanya, ketika menggunakan kapal Fery, aku tidak merasa takut, karena kapalnya besar, sedangkan perahu yang aku tumpangi kali ini kecil sekali.. Diri ini seperti sangat kecil di tengah-tengah laut.
Minggu 23 Juni pukul 04.00 perjalanan menuju P Tidung di Kepulauan Seribu baru dimulai, meskipun pukul 03.00 kami sudah berkumpul di MAN 2 kota Bogor. Dengan menggunakan bus 3/4 ( karena cuma ada 20 rekan guru yang ikut), kami bergerak mengikuti luncuran tol jagorawi menuju Muara Angke. Dibawah bimbingan sesepuh ( bu Hj. Mudrchatun) lantunan doa perjalanan kami panjatkan ( bismillah majreha wa mursaha ...). Oh iya ada yang terlupa.. yang ikut adalah dari kelompok ibu 2 : Hj. Mudrichatun, Hj. Lela sholihah, Fauziah Said, Nani, Lala Nurmala, Nurul Istiqomah dengan putrinya , Saripah, Rahmawati dan 2 putrinya, Mia Immawati. Sedangkan dari kelompok laki-laki / bapak : Umar, Aku, Khalid, Aditya, Arif, Suami Bu Nani, Putra bu Lala, Iwan Putra Bu Rahmah,
Meskipun adzan shubuh belum terdengar, namun aktivitas warga yang bergerak mengusap licinnya Jagorawi telah menggeliat. Seperti berlomba untuk menghindari kemacetannyang bakalan mereka hadapi saat mentari menampakkan diri. Namun kami rasakan, perjalanan pagi ini sangat lancar.
Permasalahan terjadi saat keluar dari tol menuju Muara Angke.. Sang supir ternyata salah arah, bus itu nyasar di perumahan elit, namun itu tak berlangsung lama... Meskipun bus ber AC namun, aroma khas Ikan mulai tercium saat memasuki Pasar Ikan.. Dasar ibu-ibu, tatkala melihat ikan di mana mana, mereka ribut dan berencana turunn untuk membeli ikan segar.. ha.ha..ha..
Bus akhirnya memasuki tempat pelelangan ikan sekitar pukul 5.30 .. duhhhhhh subuh terlambat banget.. Begitu kami turun, yang ada dalam benak kami adalah mushola. Setelah bertanya ke salah seorang di sana, akhirnya kami menemukan mushola... segera kami menyerbu, namun sayangnya mushola tersebut masih dikunci....kalutlah kami. Akhirnya kami dapat informasi di SPBU ada musholla... aku seperti dikejar setan, secepat kilat berjalan cepat menuju ke TKP. Ikut di belakangku, pak Arif, bu nani dan suaminya, serta bu Lala dan buah hatinya... namunnnnn ketika sampai ke tempat yang dituju, ternyata di Musholla tidak ada air... keringggggg..... semakin kalut ! Mau tayamum, ngak mungkin dilakukan. Waktu semakin terus berlalu.... panikkk... masuk ke WC , ampuuunnn bauuuuu..... Jurus terakhir di keluarkan "Ajtahidu bi Ra'yi", beli Aqua botol... Basuh sana-basuh sini... Alhamdulillaah.....
"Banyak air namun tak memberi arti ".
Setelah Subuh , sambil menunggu rekan-rekan yang lain, kaki ini ku langkahkan ketempat lain, mencoba menyusuri Pasar Muara Angke dan kehidupan warga di sekitarnya... Ya Ampun, aroma khas ikan yang busuk bercampur dengan genangan air, menutupi seluruh panca indraku.. Tak tahan, namun kucoba bertahan... Ku pelajari kehidupan di sekitar pelabuhan, bahasa, gerak, pola tingkah lakunya, pola gerak masyarakat nelayan dan para buruh labuhan.
Jam delapan rombongan kami berangkat dengan perahu. Isi penumpang di perahu itu bukan cuma kami tapi masyarakat Pulau Tidungpun banyak. Perjalanan menyebrang laut yang ketiga untukku setelah menyeberang ke pulau Dewata..Hanya bedanya, ketika menggunakan kapal Fery, aku tidak merasa takut, karena kapalnya besar, sedangkan perahu yang aku tumpangi kali ini kecil sekali.. Diri ini seperti sangat kecil di tengah-tengah laut.
