Rabu, 23 Juni 2010

Kenanganku di YIC Al Ghazaly


Sosok di atas adalah sosok yang mengisi hati dan pikiranku dengan ilmu agama dan hikmah. Meskipun aku tidak belajar langsung dengan beliau, namun setiap Minggu pagi, setiap kuliah subuh, atau saat shalat ashar, aku selalu berkumpul dengan beliau. Sosok sederhana, tawadhu dengan ilmu yang sangat tinggi, yang aku ingat lagi adalah saat mencium tangannya, halus sekali, andaikan boleh berlama-lama ingin tangan ini terus menempel.

Beliau lah Mama Ajengan KH Abdullah bin Nuh. Seorang ulama besar yang pernah hadir dalam kehidupanku. Seorang ulama besar yang penuh dengan kesederhanaan dan kedermawanan. Beliaulah pendiri sebulah lembaga pendidikan terbesar di Bogor yaitu YIC Al Ghazaly ,yang alamatnya di Jalan Cempaka No. 6 Kota Paris Bogor. Andai saja aku tidak mengaji di situ, mungkin aku takkan mengenal sosok ulama besar ini.
YIC Al Ghazaly merupakan tempatku melanjutkan mencari ilmu agama. Yang kutahu dulu, aku belajar di lembaga ini tahun 1979/ 1980,  Yayasan ini hanya memiliki dua lembaga pendidikan yaitu Madrasah Muallimin Muallimat Al Ghazaly dan Madrasah Diniyah Al Ghazaly.
Ini adalah doa yang biasa aku baca saat memulai mengaji. Doa karya Mama KH. Abdullah bin Nuh


Ya Allah Tuhan kami Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Lindungilah dan jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan dosa besar dan dosa kecil:
1.  Menyembah selain daripada Allah swt
2.  Mendurhakai Ibu dan Bapak
3.  Berdusta
4.  Sombong
5.  Merusak amanat
6.  Menyalahi janji dan perjanjian
7.  Menggunjing atau mengupat
8.  Mengambil hak orang lain
9.  Lupa, bahwa ilmu dan agama itu untuk diamalkan bukan untuk diperdebatkan.

Amin Yaa Robbal'Alamin.
Ada satu lagi bacaan yang biasa dibaca oleh para mustami' setiap selesai kuliah subuh, yaitu Syair yang juga di buat oleh Mama. Berbeda dengan Doa Renungan sehari-hari di atas yang terpampang di majlis, syair  mama ini tidak nampak terpampang saat itu. Meskipun awalnya aku tak bisa, namun saat mendengarkan alunan syair ini, sejuk rasanya hati ini. Setelah disiram rohani oleh Mama Ajengan..

Ini syairnya

(sumber ku ambil dari  http://yica-development.blogspot.com/2013_09_01_archive.html)

Biasanya linangan air mata keluar diantara ujung mataku saking menikmatinya alunan syair ini. Jazakallah kepada anakku Tazqiroh Qurtubhi yang telah menuliskannya di situs YICA. Terus terang dulu aku selalu meraba-raba bacaan syair itu. Kalaupun hafal hanya baris pertama. 

Aku masuk ke Lembaga ini saat aku duduk di kelas 5 SD. Awal masuk aku di test oleh seorang ustadz , yang kemudian hari ku tahu, namanya Ustadz Khalid. Aku disuruh menghapal surat Adh-Dhuha, dan surat AL-A'la. Awalnya aku tak tahu surat al-A'la, aku katakan tidak tahu, namun ketika Ustadz membacakan ayat pertama "Sabbihismarobbika..", maka aku langsung melanjutkan, karena memang aku hafal surat tersebut. aku hafal karena setiap subuh Imam Masjid  sering membacakan surat tersebut. Ada untungnya aku shalat subuh berjamaah di masjid, meskipun surat yang sering kubaca baru sampai Adh-Dhuha.. Alhamdulillah aku diterima di kelas 3. Namun aku belum masuk kelas karena disuruh masuk kelas keesokan harinya.

Hari Selasa tahun 1979 , lupa tanggal dan bulannya..he..he..,  aku masuk kelas 3. Dengan menggunakan sarung yang aku pakai di rumah, karena peraturannya seperti itu. "Sarung harus dipakai di rumah, tidak boleh di Al Ghazaly". Aku duduk dengan saudaraku , anak paman , namanya Muhyidin. Karena hanya dialah yang ku kenal. Satu persatu siswa-siswi diabsen, setelah semua di panggil, tinggallah aku yang belum dipanggil. Ibu Guru, "Ibu Zu" nama panggilan beliau, akhirnya memanggilku ke depan dan menyuruhku untuk memperkenalkan diri.

Yang kuingat dan berkesan hari pertama itu adalah saat pelajaran 'Imla". Aku siswa baru dan tidak tahu "imla" itu apa, namun yang kutahu, ibu Zu menyebutkan suatu kata, dan siswa disuruh menuliskannya. Imla itu sama dengan dikte.. he..he.. Hari itu aku mencontek pekerjaan saudaraku "Muhyidin", karena memang tidak tahu apa yang harus kutulis..he..he.. nyontek pertama kali, dan mudah-mudahan tidak terulang lagi.. Nilai 65 ku dapat sambil nyengir sedih.. karena muhyidin mendapatkan nilai 70.. Namun alangkah kagetnya ketika ibu Zu menyebut nama Erni-Erna mendapatkan nilai 10.. sedihhhhhhh..
Semangatku terbakar. Namun aku tidak tahu yang harus aku lakukan. 
Kesan kedua yang masih membekas di ingatanku peristiwa hari pertama itu adalah, pelajaran terakhir, Pelajaran "Akhlaq", ketika kulihat muhyidin membuka buku Akhlaq, sepertinya buku itu tak asing bagiku, buku "Akhlaqulil-banin". Aku ingat sampulnya berwarna merah, ukuran kitabnya setengah ukuran kertaas A4. Mengapa berkesan ? Meskipun aku anak baru, namun sebelum di Al Ghazaly aku pernah mengaji di salah seorang guru di Gg. Menteng. Mengaji di rumah Ibu Entun, sekarang sudah tiada, "Allahummaghgirlaha..". Aku ikuti terjemahan setiap kata dengan seksama, meskipun aku sudah mengetahuinya.  Bukan mengetahui, namun sudah hafal diluar kepala. Karena sistem pengajaran di bu "Entun" adalah sistem hafalan. Kalau pulang, bukan tulisan yang kami bawa, tapi hafalan yang ditulis di papan tulis. (mungkin nanti akan ku ceritakan pula).
Kembali ke pelajaran Akhlaqulillbanin. Setelah bu Zu selesai menterjemahkan semua, beliau menyuruh kepada siswa untuk mengulang kembali materi tersebut. Namun tidak ada satu pun yang bersedia, karena belum hafal, nampak raut wajah beliau agak sedikit memerah. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk menyimpulkan isi materi tersebut. Sekali lagi bukan sombong, namun karena aku sudah hafal materi tersebut. Dengan agak sedikit gugup aku jelaskan tentang Anak yang shaleh itu ssatu persatu, kata demi kata, dan menyimpulkannya. Ketika sudah beres, ibu Zu memberikan pujian kepadaku. Yang masih kuingat kata-kata nya , "Coba kalian lihat, wahyu siswa baru saja bisa menjelaskan dan menyimpulkan materi ini, kenapa kalian tidak bisa ?" Suatu pujian yang memberikan semangat kepadaku untuk lebih giat lagi belajar.

Hari demi hari aku lalui kegiatan pembelajaran di Madrasah Diniyah Al Ghazaly itu dengan penuh semangat. Fiqh, Bahasa Arab, Tauhid, adalah materi yang cepat aku kuasai. Sekali lagi bukan karena aku ini pintar, namun di kelas 3 ini aku lebih banyak mengulang materi yang pernah aku dapatkan saat mengaji di ibu Entun.  Kalau dulu mah aku harus menulis dan terus menghafalkannya materi tersebut pada hari itu, sekarang aku malah dapat kitabnya.. Hanya pelajaran Qiraah dan khat yang merupakan pelajaran baru ke-dua dan ke-tiga setelah imla. Aku senang membaca dan menggambar. Berbeda dengan imla yang kurang aku senangi, Qiraah dan Khat sangat aku sukai. Singkat cerita, tibalah pelajaran 'Imla". Aku pasrah saja, karena memang tidak aku kuasai. Meskipun agak telat mikir dan menulis apa yang dibacakan Ibu Zu, namun hasil imlaku yang kedua mendapat nilai 70, tanpa melihat pekerjaan Muhyidin. Aku berusaha sendiri. Sedikit berbangga dengan keringatku ini, meskipun di sisi lain sedih pula melihat Muhyidin mendapat nilai 75, Erna, Erni, Raihanah mendapatkan nilai 100 dan 90.. Sahabat aku terbakar hebat.. kok mereka bisa ????.. Dari imla yang kedua ini, aku mencoba mengingat kalimat yang di imlakan.. Tatkala aku membaca Qiraatusy-syar'iyyah, aku membaca ada kalimat yang sama dengan yang di diktekan oleh Ibu Zu.. Kemudian aku lihat lagi imla pertamaku. Aku dapatkan pula kalimatnya berasal dari kitab Qiraah itu. Tanpa pikir panjang lagi. Aku baca kitab qiraah itu, aku hafalkan isinya dan aku tuliskan kembali setiap kata di buku tulis. Aku mencoba menyenangi pelajaran imla.

Singkat cerita lagi.. Saat imla ke tiga aku mendapatkan nilai 95. Betapa senangnya aku, karena perjuangannku tidak sia-sia. Menghafal kitab Qiraah dan menuliskannya kembali ternyata membuatku berhasil dalam pelajaran imla. Materi yang di Imla-kan adalah "Al-birantas". Bercerita tentang sungai berantas..  Saat imla ke empat, aku mendapatkan nilai 100, dan setiap imla aku berhasil mengalahkan erna-erni dan raihanah. Aku kembali aktif dan senang mengaji dan menelaah ilmu.. Dan hasil kerja kerasku selama satu semester itu telah menjadikan aku juara tiga. Namun di semester ke dua tatkala strategi guru sudah ku kuasai aku menjadi juara satu, sampai aku lulus kelas 7.. selalu nomor 1.. alhamdulillah.

Aku ceritakan ini meskipun dengan bahasa yang amburadul, bukan untuk menyombongkan diri, namun ingin berbagi dengan anak-anakku yang tengah berjuang, belajar di sekolah, bahwa keberhasilan dalam belajar bukan didapatkan dengan mudah, tetapi harus dengan kesabaran, perjuangan yang keras, serta mau berjalan lebih dahulu, meskipun materi itu belum pernah diajarkan guru. Saat materi tersebut diterangkan oleh guru, maka pengetahuan yang sudah ada dalam pikiran kita, akan tersinkron-kan dengan yang dijelaskan oleh guru. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar