CuraHanKu

Persimpangan

tatkala ajal datang menjemput hamba,
godaan syetan akan semakin gencar..
diantara kebimbangan rugilah hamba
jika anggukan syetan yang terpancar.

dipersimpangan jalan ku berdiri,
mencoba menepis segala lekuk hidup,
meluruskan kelokan-kelokan yang terlewati
mengais diantara perjuangan yang meletup
ku mencoba mengerti diri
menerawang masa
memperbaiki diri
memoles raga

satu jalur tak nampak
bergerak lurus tanpa kendala
berlari tuk mengejar ketinggalan
ridha ilahi yang tertinggal

medio "18 April 2011 pukul 20:02"



renung
(medio  14 Mei 2011 pukul 19:47 )

Iftitah kubuka
Jantung berdetak kencang
Merah melintas
Menyusup cepat

Bismillah Kuucap lebih awal
Berlaku amanah
Mengeja janji dan persaksian
Mengikis noktah hitam
Berharap bekal kepulangan
Khusnul Khatimah

Picu Adrenalin
Luruskan khusyu'
Berat rasa
Ringah kuharap
dikemudian ....

Sujud kutundukkan
Menghamba..
meraih kasih
mengharap dekapan

hmmmm......
Rasa kuhirup
Pikirku hentakkan
mengharap kekalnya amalan
dari duniaku
untuk duniaku
Harap keselamatan

rasaku menerawang
mengurai tirai
satu dalam perasaan.

Lailaaha illallah


alone
medio 17 Mei 2011 pukul 23:13 •

Dengar suara senyap itu
sahdu mendayu
membuat angan dalam kenangan
berucap seribu kata tak bermakna
bersusah hati mengulang kata

Kerumunan tak bersuara
mimik wajah berubah
pancarkan pesona rona hidup
bergerak
bersuara
namun aku ditulikan
ku hanya tahu mereka ada
bukan untuk sapa saudara
namun 'tuk kerja

sekelilingku hanya aku



jerit tangisku
medio 4 Agustus 2011 pukul 10:02 

Allahu Akbar…
Ku hadapkan jiwa ragaku mencoba mendekatimu
Ruku kusempurnakan
Sujud kusimpuhkan
Getarkan hatiku...
Mencari kebesaran-Mu

Asaku hampir ‘tlah putus,
Kala dosa terlintas dalam benak
Kala nikmat berbaur dengan nista
Kering kelu lidahku
Berucap satu …
Faghfirliy..

Isakku tlah tak bersuara…
Aliran tangispun tlah mengerak kering
Tak berbekas..
Menguncangkan diri
Pasrahkan hati
Dalam genggaman Ilahi..

Terbesit nista masa lalu
Terbayang masa kan menjelang
Satu hariku terasa 50 ribu tahun
Masa tak terampuni dosa

Faghfirliy….
Ucap terus terucap
Mencoba membangkitkan sukmaku yang kelam
Kaca yang tak pernah terbasuh
Siraman ruh penghapus dosa

Arah lariku tak terarah kini
Lurusku tak sejalan kini
Kelokan malah yang kusenangi
Semakin limbung diri
Meluruskan yang telah bengkok
Asaku mungkinkah kan terkubur



Yu..!!!  ("Ingat..")
medio  5 Agustus 2011 pukul 15:10 

bumi kering..
terguncang beriringan..
pekikan terlontar
panik berhamburan
mencari perasaan aman
terhadap bahaya mengancam

badanku berbalik..
melihat bayangan masa lalu
tatkala kulihat isak tangis
kepanikan manusia,
meski cuma dalam berita..

ku lalui arah itu,
mencari bayang yang hilang
berharap jejak
meski tak nampak
hanya suatu asa..

ku kuak episode perjalanan
mengais kerikil-kerikil kehidupan
yang berserakan tak berpola
lelah hitung berhitung
seribu kerikil tlah kugenggam
kepastian belum nampak terkuak
seluas ruang tak berujung
ruas jari kuhitung..
berharap asa yang pasti
akhir hidup di kemudian hari

wa'fu 'anniii



surat " untuk tuhanku"
medio  6 Agustus 2011 pukul 9:51 

tuhan...
ada rasa getir ku rasa
kala ku bermohon padamu
mencoba merayumu
dengan segala janjiku

tuhan..
seper sekian rasa malu
kucoba tutup
meski kutahu
berat neraca 'tlah terbaca kini

tuhan..
diantara rasa malu..
kutahu rahman rahim-Mu..
berharap dari berjuta harap
terkabul satu
mungkinkah ?

tuhan..
kutahu Engkau sangat dekat
namun ku tak tahu jarak dekatmu
karena mataku tak mampu melihat
hatiku tak bermata...
akalku tlah teracuni
gejolak lava nafsu..

tuhan ....
masih kah Kau mendengarkanku
jeritanku...
keluhanku...
harapanku...
gemuruh dadaku...
bercampur diantara keinginan dan rasa maluku

tuhan...
masih pantaskah aku..
memohonkan sesuatu padamu
padahal akar kelamku
terhujam jauh ke dalam dadaku

tuhan ...
meski aku malu
tapi...
ku berharap
tuhan..
aku rindu pada-Mu


qooluu balaa syahidnaa ( episode hidup)
medio  11 Agustus 2011 pukul 10:53 •

qooluu balaa syahidna
andai ku bisa membukar tabir lama
menerawang jauh masa janinku
merdengar suara-Mu
melihat wajah-Mu
kukuhkan hati pada ketentuan-Mu

jerit tangis mengawali hariku
melepas pelukan-Mu
menerawang alam
yang tak tergambarkan

sayup terdengar alunan asma-Mu
berbaur hingar bingar
berbaur kilauan cahaya
berbaur warna
asing bagiku

jeritku semakin keras..
menyeretku dalam irama waktu lalu
mengenang kasih-Mu
diantara keheningan dan sepiku
tatkala alunan asma-Mu semakin sempurna
gelombang sayang terasa menyentuh

rasaku ..
pikirku...
rambatan itu...
tidak asing..
terasa
..
ingatku kan sayang-MU
meski tak sedahsyat milik-Mu
mengawali hidupku
mengais diantara jerit tangisku
satu diantara nanarku
satu diantara sapaan
satu diantara sentuhan
berlomba merebut perhatian
kecupan..

seolah lama waktu tak sua
jeritku kembali menggema
mengenang-Mu
genangan tangisku..
rinduku pada-Mu
qooluu balaa syahidnaa


sabit hilang
medio  16 Agustus 2011 pukul 15:37 •

hitam menggulung 
lenyap sabit kecil
diantara bianglala malam
menebar pesona
merengkuh beribu pahala
menghapus noktah
keras mengarang
mengikis pesona aroma
laknatullah..

sedetik waktu ..
sebulan 'kan berlalu
sejumput rasa haru biru
berjalan melintasi takdir
sunatullah

menengok masa,
tak kan kembali...
menghitung lamunan,
hempasan terasa...
bulir-bulir tlah mengelupas
putih tegak
bertasbih nama-Mu
andai boleh berandai
sebulan itu terantai
tuk masa tak berurai
menjadi hiasan yang teruntai

memoles putih hati
mengaliri merah umbaian
membersihkan diri
diantara hidup 1000 bulan


likur.
medio 21 Agustus 2011 pukul 7:34 •


duapuluh 'tlah berlalu
prilaku seperti yang lalu
menutup hati dengan yang baru
karena merasa diri manusia maha tahu

'tlah bergulir masa
rasa tiada berganti
asa berdiri di angkasa
memandang bercongkak diri

putih tiada kemilau
hitam semakin memukau
menggerus hati risau
tertutup kata "jikalau"

"andai" tlah menjadi episode hidup
kebenaran tlah terhalang masuk
berprilaku diri tertutup katup
dikumbangan lumpur yang busuk

"andai" hati boleh berkata
namun sang mulut berjaga-jaga
kelukan lisan bertutur kata
bermanis madu sejuta raga

"andai" telapak tangan terhampar
kebusukan 'kan nyata terlempar
namun jemari menutup
kebenaran tiada meletup

kuat akal terhalang rasa
patah bengkok terasa indah
lurus tegak tiada daya
menunjuk hati yang gundah

kemana mencari diri
nyata diri tak punya diri
berkedok jati diri
prilaku manusia yang tak tahu diri

arah semakin tak tentu
sepuluh hari menanti
berubah diri menjadi penentu
beban hidup di kemudian hari

likur harapan diri
menotok hati
berbesih diri
menuju harapan suci
berkasih dengan ilahi
di kemudian hari...

Allahumma innaka 'afuwun kariim
tuhibbul 'afwaa
wa'fu 'annii



November 2012

Jangan jauhi aku
Berharap melekat..
Berburu nikmat..
Melanglang dalam ikatan...

Berdiri tak terasa berpijak
Pikir tlah buntu di ambang masa
Menutup gulana tak bertepi..
Meraup morgana tak berwujud

...

tak berjudul-2
medio 29 Desember 2012

gerbang perlahan mulai tertutup
derikan bunyi seirama isakan sendu
cahaya baru mulai terbuka dari katup
perlahan dalam alunan syair syahdu

pikirku tak lagi bernafsu
nafaspun tak lagi menggebu
berpulang dalam shirotol mustaqim
menepis syahwat yang dzalim

terengah engah nafasku memburu
khawatir pintu-Mu tlah tertutup untuk ku
tak sanggup ku mencari pengganti
karena Engkau tempatku mengabdi

Aroma kesturi belum terasa nyata
masih dalam alam yang tak nyata
meski diri sudah menapaki dunia nyata
namun hati masih terbang di alam tak bermata

seribu cambukan telah kutempa
berjuta sayatan masih nampak menganga
bukti prahara pernah melintas tanpa menyapa
prasasti bukti diri tenggelam dalam gelimang nestapa

awal hari ku terasa berbeda aroma
sejuk menentramkan jiwa yang telah ternoda
tersungkur diri dalam alunan gema
melanglang bukan di alam maya pada

aku mulai melangkah ...



tak berjudul-3
medio sama

Bukan itu yang kumaksud
Tapi ini yang kuharap
Bukan berjalan telungkup
Tapi berlari menyusup

Menyusup dalam relung terdalam
Berkasih dalam naungan ilahi
Meninggalkan dosa yang kelam
Bersuci nur berbesih diri

Akalku masih sempurna,
Mengendalikan nafsu mandiri
Berpacu bergerak tanpa rasa
mendinginkan siksaan kubur dan api

Nur ku masih memancar dalam hati
Berhari hari kupadamkan dan hening
Berlaku dalam kukungan nafsu tak berhati
Menghadang ingatan yang berlaku bening

Aku terlena dalam keakuanku...


tak berjudul -4
medio persimpangan 

Pikirku aku kuat,
 Ternyata aku lemah..
 Asaku panjang...
 Namun pendek, 
Jalanku katanya panjang,
 Ternyata berkelok bertambah panjang..
 Alam mayaku katanya pendek,
 Ternyata memanjang di alam nyata..
 Katanya aku mudah melupakan,
 bisikan anginnya menenggelamkan...
 Hampaku bertambah lembut,
 Menerawang jauh tak tentu arah..
 Berpikir tuk kembali
 Antara khayal dan kenyataan

------------------------

Untaian baitnya bernada..
Menembus,
Menghujam ulu hati ..
Mengiris sembilu 
Menoreh luka kecil, menyayat..

Andaiku , hanya berandai..
Fatamorganaku , bukan fatamorgana
Wujud itu, hanya wujudnya
Kurengkuh kukuh
....
Berbalik ku tatap
Berbalik ku sapa
Pesona untaian hasrat
Beriring ...
Meronakan langit senja
....
Asaku tetap asa
Hasrat torehan lukaku sirna
Gebu kuyakinkan..
Gemericik menutup pori pori sayatan..
Menebar ..
Menelusuri lorong bertepi
Dalam satu biduk kehidupan



hamba menghamba
medio 1 januari 2013

Bukan maksud hamba menghamba pada hamba
Namun hamba tak mampu menghadapi hamba
Kala hamba mengikat hati hamba
Dengan satu hasrat yang meluruhkan hati hamba


Hamba semakin dekat dengan hamba
Lupa kalau hamba adalah hambaseorang hamba
yang diciptakan pencipta hamba
Untuk mengabdi pada yang punya hamba


Hamba berjalan dengan hamba
Waktu panjang terasa pendek menurut hamba
Indah masa hamba dengan hamba
Mengaburkan kecintaan hamba kepada pencipta hamba


Kenangan indah bersama hamba
Menjadi petaka hamba di depan pencipta hamba
Saat dosa memberatkan timbangan hamba
Dalam masa pengadilan yang punya hamba


Tergambar keadaan hamba dengan hamba
Berbaur dengan api yang diciptakan hamba
Saat dunia hamba menguasai hamba
Tali kekang akhirat mengikat hamba


Andai boleh berandai hamba
Terhadap yang punya hamba
Satu hari untuk seorang hamba
Memperbaiki kehidupan hamba dengan hamba


Negeri Rempah .. Remah
19 Maret 2013 pukul 20:10

Negeri...
Ngeri ..
Berharta tak berharga
Berkarya  tak bernyawa
Berlomba dalam fatamorgana

Negeri..
Merana..
Berkaca dalam sejarah
Bergerak dalam lalu
Bercermin tak bermakna
Hanya sekedar petatah

Negeri..
rempah..
Hanya dalam titian sejarah
Bergulung dalam hempasan masa
Sekedar tulisan kebanggaan

negeriku remah
Rempahku sirna
terbitku tak lagi di timur
titianku tergerus keserakahan
harta kemiskinan

jeritan itu  tak bersuara

Rempahku .. Remah-remah...



Gelora yang Pulang Tanpa Suara

genderang telah ditabuh,
perang di pelupuk mata,
bergejolak amarah,
menahan gelora nafsu angkara.

bergolak tanpa bara membara,
berlaku tanpa arah,
menepis akal sehat,
menopang beban angkara.

hingga langit pun menunduk muram,
menyaksikan manusia melawan bayangannya sendiri.
antara logika yang terkoyak
dan nurani yang nyaris padam,
tinggallah sunyi —
menggema di dada yang haus makna.

lalu, dari reruntuhan ego yang membatu,
tumbuh setetes harap kecil,
menyibak kabut dosa dan kecewa.
di sanalah, jiwa mulai sadar —
bahwa setiap luka hanyalah jejak,
tempat kita belajar berhenti menyakiti diri sendiri.

jejak bergeser dalam irama,
berangsur dalam kefanaan,
mengais lumpur kenistaan
dalam jarak antara jemari.

di sela ruang yang tak terucap,
waktu menatap tanpa suara.
antara ingin dan takdir,
jiwa terhenti —
menunggu cahaya yang tak kunjung pulang.

maka biarlah senja menelan sisa desir,
membawa segala amarah dan sesal ke ujung langit.
di sana, diam menjadi doa,
dan aku — hanya serpih waktu
yang belajar pulang tanpa suara

medio Mei 2025



Rindu yang Tak Tersampaikan

di antara jeda malam dan sunyi yang menggigil,
nama itu terucap tanpa suara.
aku menyimpannya di balik dada,
tempat semua kata enggan lahir jadi nyata.

setiap hembusan angin membawa bayangmu,
lembut, tapi menyesakkan.
aku ingin menyapa,
namun takut rindu ini pecah menjadi luka.

waktu berjalan, tapi rinduku membeku,
tak berani tumbuh, tak mampu layu.
aku hanya menatap dari jauh,
menyulam jarak menjadi doa yang tak henti kututurkan.

dahsyatnya gelombang asmaradahana
membawa asmamu dalam renungan di penghujung doa.
andai kau tahu,
rindu ini tak meminta balasan—
hanya tempat kecil di hatimu untuk diam sesaat saja.


Masih Ada Namamu di Senja Itu

aku belajar menenangkan degupku,
seperti laut yang memeluk ombaknya dalam diam.
tak lagi berharap kau menoleh,
cukup tahu kau pernah singgah — itu sudah indah.

setiap senja masih berbisik tentangmu,
meski warna jingganya kini tak sehangat dulu.
ada sisa senyum yang kutitipkan pada cahaya,
agar ia menyentuhmu tanpa harus kutemui.

rinduku kini bukan lagi ingin memiliki,
melainkan kemampuan untuk merelakan.
aku tetap berjalan,
membawa namamu sebagai doa,
bukan beban.


Ketika Aku Belajar Ikhlas

malam tak lagi menusuk seperti dulu,
aku sudah berdamai dengan sunyi.
rindu masih ada —
tapi kini ia berwajah lembut, bukan luka lagi.

namamu kini kupanggil dalam doa,
bukan dalam tangis atau tanya.
kau tetap cahaya,
meski tak lagi menyorot ke arahku.

aku mengerti,
tidak semua rasa harus memiliki ujung,
kadang ia hanya lahir
untuk mengajarkan bagaimana mencintai tanpa menggenggam.

maka biarlah waktu berjalan,
membawa langkahku ke tempat lain,
namun jika suatu hari angin menyebut namamu,
aku akan tersenyum —
dengan seluruh kesunyian yang kupunya.

medio penghujung 2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar